Jejak

Pangsit Sandal Bekas

FullSizeRender

Foto ini diambil sekitar tahun 1975-an. Saya berdiri di samping kanan Bapak, sedangkan adik saya, Bayu, berdiri di samping kiri Ibu. Saat itu, adik bungsu kami, Nia, belum lahir.

Kami berpose di rumah tinggal kami yang berdinding bambu di Jalan Khairil Anwar, Jember (belakangan nama jalan ini berubah menjadi Jalan Letjen Suprapto). Rumah ini adalah fasilitas dari Dinas Kehewanan Wilayah Besuki Barat, tempat Bapak mengabdikan diri.

Sebagai istri,Ibu aktif di organisasi Periska Tani Ini adalah wadah organisasi bagi para istri pegawai di lingkungan Departemen Pertanian, yang di kemudian hari melebur ke dalam Dharma Wanita.

Ada salah satu kenangan yang tak terlupakan. Suatu hari, Ibu pulang dari kegiatan demo memasak Periska Tani dan ingin sekali mempraktikkan resep pangsit untuk kami. Namun, saat itu Ibu tidak punya bahan dan uang pun tak cukup. Ibu tak kurang akal. Ia mengumpulkan sandal-sandal bekas di rumah, lalu menjualnya kepada tukang rombeng keliling. Uang hasil jual sandal itulah yang dipakai membeli tepung terigu.

Jadilah pangsit itu. Kami berempat makan dengan sangat lahap. Rasanya luar biasa—sepertinya itulah pangsit paling enak yang pernah saya makan seumur hidup.

Hari ini, 1 Desember, tepat 15 tahun Ibu berpulang. Bapak menyusul 14 bulan kemudian. Foto buram ini menjadi saksi ketangguhan mereka membesarkan kami.

Al-Fatihah untuk beliau berdua. 🤲